Minggu, 21 April 2013

Penatalaksanaan Persiapan Pemeriksaan Penunjang


KATA PENGANTAR




Assalamualaikum Wr.Wb.

            Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-NYA, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penatalaksanaan Persiapan Pemeriksaan Penunjang IKD VI (Ikatan Keperawatan dasar VI) studi S1 Keperawatan.
            Dalam penulisan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
            Dan pada kesempatan ini pula kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing dan teman- teman yang telah ikut berpartisipasi dalam penulisan makalah ini sehingga selesai tepat pada waktu nya.
            Demikianlah makalah ini kami tulis semoga dapat bermanfaat bagi pembaca, akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Assalamualaikum Wr.Wb.



                                                                                                Mataram, 19 Maret 2013




                                                                                        RAHMAD RAMADAN RIZKY                                                                                                                            


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR  ....................................................................................................
DAFTAR ISI.....................................................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN...............................................................................................
1.1  Latar Belakang........................................................................................ .....................
1.2  Tujuan Penulisan............................................................................................................
1.3  Pembatasan Masalah......................................................................................................
1.4  Metode Penulisan...........................................................................................................
BAB II : PEMBAHASAN..................................................................................................
2.1   Pengertian Spesimen.......................................................................................................
2.2   jenis dan tujuan pengambilan spesimen..........................................................................
2.3   hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan spesimen............................................
2.4  persiapan pengambilan spesimen....................................................................................
2.5  teknik pengambilan dan pengiriman spesimen...............................................................
2.6  komplikasi pengambilan spesimen dan cara mencegahnya............................................
2.7  nilai - nilai laboratorium normal.....................................................................................
BAB III : PENUTUP ..........................................................................................................
3.1  Kesimpulan.....................................................................................................................
3.2  Saran ..............................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA










BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Prosedur dan pemeriksaan khusus dalam keperawatan merupakan bagian dari tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dilaksanakan secara tim, perawat melakukanfungsi kolaboratif dalm memberikan tindakan.
Hasil suatu pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam membantu diagnosa,   memantau perjalanan penyakit serta menentukan prognosa. Karena itu perlu diketahui
faktor yang mempengaruhi hasil pemeriksaan laboratorium. Terdapat 3 faktor utama yang dapat mengakibatkan kesalahan hasil laboratorium yaitu :

1.      Faktor Pra instrumentasi : sebelum dilakukan pemeriksaan.
2.      Faktor Instrumentasi : saat pemeriksaan ( analisa ) sample.
3.      Faktor Pasca instrumentasi : saat penulisan hasil pemeriksaan.
Pada tahap prainstrumentasi sangat penting diperlukan kerjasama antara petugas, pasien dan dokter. Karena tanpa kerja sama yang baik akan mengganggu/mempengaruhi hasil  pemeriksaan laboratorium. Yang termasuk dalam tahapan pra instrumentasi meliputi :
1.      Pemahaman instruksi dan pengisian formulir laboratorium.
2.      Persiapan penderita.
3.      Persiapan alat yang akan dipakai.
4.      Cara pengambilan sample.
5.      Penanganan awal sampel ( termasuk pengawetan ) & transportasi.
1.2  Tujuan Penulisan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi tentang klien, penyakit, dan kebutuhan klien serta meningkatkan kemampuan dalam penyusunan dan penyajian laporan sesuai dengan pengalaman nyata dilapangan serta melaksanakan pendokumentasian hasil pemeriksaan klien.

1.2.2. Tujuan Khusus
o   Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan persiapan pemeriksaan penunjang.
o   Mahasiswa mampu mendokumentasikan hasil pemeriksaan laboratorium pada pemeriksaan spesimen.
o   Mahasiswa mampu mengindentifikasi kesenjangan yang terjadi antara teori dengan pelaksanaan pemeriksaan dan pendokumentasian penatalaksanaan persiapan pemeriksaan penunjang.



1.3 Pembatasan masalah
                   Pada laporan ini hanya membahas tentang pengertian spesimen, jenis dan tujuan pengambilan spesimen, hal yang harus diperhatikan dalam pengambilan spesimen, persiapan pengambilan spesimen, tehnik pengambilan dan pengiriman spesimen, komplikasi, dan nilai-nilai laboratorium normal.

1.4 metode penulisan
Makalah yang kami buat menggunakan metode penulisan deskriptif, yang menggambarkan penatalaksanaan persiapan pemeriksaan penunjang.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Spesimen

Sepesimen merupakan segala macam benda apa saja yang dianggap tercemar oleh suatu penyakit hewan atau jasad renik penyebab penyakit hewan termasuk bagian-bagian tubuh hewan atau berupa hewannya sendiri yang mati, sakit atau tersangka sakit perlu dikirim secara cepat dengan memperhatikan ketentuan yang diperlukan. Manfaat pengiriman spesimen pada lembaga yang secara profesional berwenang misalnya Balitvet, BPPH atau laboratorium di beberapa perguruan tinggi tidak hanya berarti terhadap diagnosa penyekit itu sendiri namun juga untuk pengendalian penyakit secara lebih luas misalnya dalam ruang lingkup epidemiologi.

Ø  Dasar pengumpulan spesimen adalah :

a.       Jenis spesimen yang dikirim tergantung pada jenis penyakit sehingga organ yang dikirim juga spesifik khususnya organ atau jaringan yang secara klinis mengalami perubahan.
b.      Spesimen dikirim dalam keadaan aseptik menggunakan bahan yang ditetapkan sesuai prosedur atau peralatan yang telah dicuci, dikeringkan dan disterilisasi.
c.       Botol diberi diberi identitas yang jelas dan teknis pemeriksaan apa yang diinginkan.
d.      Botol spesimen disimpan dalam termos es dan (e) selama proses pengambilan spesimen lakukan secara hati-hati khususnya terhadap pencemaran.

Ø  Ada beberapa yang mempengaruhi seleksi pengiriman spesimen daintaranya yaitu:  waktu, peralatan, teknik, transportasi, dantidak kalah penting adanya form/ dokumen sepesimen.

Ø  Pada prinsipnya bahan yang diperlukan, cara pengepakan, dan metode yang dikehendaki harus disesuaikan dengan apakah spesimen tersebut untuk diperiksa secara bakteriologik, virologik, mikologik, parasitologik, toksikologik, serologik dan pemeriksaan histopatologik. Penyakit dan organ yang terserang biasanya spesifik oleh karenanya pengiriman spesimen harus memperhatikan gejala klinis penyakit dan jenis spesimen serta pengawetan yang digunakan.

2.2  Jenis dan Tujuan Pengambilan Specimen


2.2.1        Jenis Pengambilan Specimen.

1.      secara probabilitas
Probabilitas atau random sampling merupakan
jenis teknik sampling yang dilakukan dengan memberikan peluang atau kesempatan kepada seluruh anggota populasi untuk menjadi  sampel. Dengan demikian sampel yang diperoleh diharapkan merupakan sampel yang representatif.


Jenis Teknik sampling semacam ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
a.       secara rambang sederhana atau random sampling. Cara paling populer yang dipakai dalam proses penarikan sampel rambang sederhana adalah  dengan undian.
b.      secara sistematis (systematic sampling). Prosedur ini berupa penarikan sample dengan cara mengambil setiap kasus (nomor urut) yang kesekian dari daftar populasi.
c.       secara rambang proporsional (proporsional random sampling). Jika populasi terdiri dari subpopulasi-subpopulasi maka sample penelitian diambil dari setiap subpopulasi. Adapun cara peng-ambilannya  dapat dilakukan secara undian maupun sistematis.
d.      secara rambang bertingkat. Bila subpoplulasi-subpopulasi sifatnya bertingkat, cara pengambilan sampel sama seperti pada teknik sampling secara proportional.
e.       secara kluster (cluster sampling) Ada kalanya peneliti tidak tahu persis karakteristik populasi  yang ingin dijadikan subjek penelitian karena populasi tersebar di wilayah yang amat luas. Untuk itu peneliti hanya dapat menentukan sampel wilayah, berupa kelompok klaster yang ditentukan secara bertahap. Teknik pengambilan sample semacam ini disebut cluster sampling atau multi-stage sampling.

2.      secara nonprobabilitas.
Nonprobabilitas adalah jenis teknik pengambilan sample yang ditemukan atau ditentukan sendiri oleh peneliti atau menurut pertimbangan pakar. Beberapa jenis atau cara penarikan sampel secara nonprobabilitas adalah sebagai berikut.

a.       Purposive sampling   atau  judgmental sampling  Penarikan sampel secara purposif merupakan cara penarikan sample yang dilakukan memiih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang dietapkan peneliti.
b.      Snow-ball sampling (penarikan sample secara bola salju). Penarikan sample pola ini dilakukan dengan menentukan sample pertama. Sampel berikutnya ditentukan berdasarkan informasi dari sample pertama, sample ketiga ditentukan berdasarkan informasi dari sample kedua, dan seterusnya sehingga jumlah sample semakin besar, seolah-olah terjadi efek bola salju.
c.       Quota sampling (penarikan sample secara jatah). Teknik sampling ini dilakukan dengan atas dasar jumlah atau jatah yang telah ditentukan. Biasanya yang dijadikan sample penelitian adalah subjek yang mudah ditemui sehingga memudahkan pula proses pengumpulan data.
d.      Accidental sampling  atau convenience sampling Dalam penelitian bisa saja terjadi diperolehnya sampel yang tidak direncanakan terlebih dahulu, melainkan secara kebetulan, yaitu unit atau subjek tersedia bagi peneliti saat pengumpulan data dilakukan. Proses diperolehnya sampel semacam ini disebut sebagai penarikan sampel secara kebetulan.

2.2.2        Tujuan Pengambilan Spesimen

Tujuan pengambilan spesimen  masalah & menilai respon klien terhadap terapi yg dijalani
Spesimen & Perawat
 mengambil spesimen cairan tubuh, urine, sputum, feses, Spesimen cairan tubuh  & darah.


Ø  Pemeriksaan Urin
1.        Urine Rutin
Urine pertama pada pagi hari karena konsentrasi urin lebih tinggi & pH-nya lebih asam. Urin yg diperlukan = 120 ml.Urin segera diambil karena kristal urin dan sel darah merah akan lisis jika dalam waktu lama. Klien bisa melakukannya sendiri
.
2.        Urin Sewaktu
Pengambilan semua urin yang dikeluarkan dalam waktu tertentu (1 – 2 jam hingga 24 jam). Urin dibekukan & dimasukkan ke d
alam wadah pengawet untuk mencegah kolonisasi bakteri. Tujuannya untuk menentukan kemampuan ginjal, menentukan gangguan gangguan metabolisme glukosa dan menentukan kadar tertentu dalam urine.
3.        Urin Pancar Tengah
Untuk kultur urine (mengetahui mikroorganisme yang menginfeksi saluran kemih. Menentukan tipe organisme & antibiotik yg sensitif terhadap organisme. Urine dimasukkan ke wadah yg tertutup & steril. Urine yg dibutuhkan 30 – 60 ml
. Pemeriksaan Feses
Tujuan:
Menentukan darah samar karena adanya ulkus, inflamasi dan tumor. Mengetahui adanya gangguan pd gastrointestinal. Mendeteksi telur & parasit Mendeteksi adanya virus & bakteri dengan kultur.

Ø  Pemeriksaan Spesimen Darah
Pada pemeriksaan spesimen darah, darah yg diambil adalah darah vena, darah kaliler & darah arteri.
1.        Darah Vena
Untuk melakukan test diagnostik
, Memberikan informasi sistem hematologi & sistem tubuh yg lain CBC (complete blood count), elektrolit serum, kimia darah.
Pengambilan darah dilakukan pada vena
, Pada org muda kadang sulit karena kulit tebal sehingga sulit untuk ditusuk. Pada lansia juga sulit karena vena cenderung lari saat akan di tusuk dan bisa juga karena ada penebalan atau pengerasan vena akibat adanya aterosklerosis. Penusukan vena dilakuakn dengan sudut 15 o
2.        Darah Kapiler
Untuk pemeriksaan glukosa darah atau saat pengambilan darah vena gagal
dilakukan di daun telinga & ujung jari tetesan pertama dibuang dgn kapas kering agar tdk bercampur alkohol.
3.        Darah Arteri
Untuk pemeriksaan AGD
, Untuk menngetahui status respirasi & status asam basah darah klien. Jika jarum mengenai arteri maka akan terlihat pulsasi darah mengisi spoit. Tanda-tanda okulasi arteri : Kesemutan, Pucat, Tidak ada denyut nadi.
2.3 HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM PENGAMBILAN SPECIMEN :
1.       PERSIAPAN PASIEN
Persiapan pasien dimulai saat seorang dokter merencanakan pemeriksaan laboratorium bagi pasien. Dokter dibantu oleh paramedis diharapkan dapat memberikan informasi mengenai tindakan apa yang akan dilakukan, manfaat dari tindakan itu, dan persyaratan apa yang harus dilakukan oleh pasien. Informasi yang diberikan harus jelas agar tidak menimbulkan ketakutan atau persepsi yang keliru bagi pasien. Pemilihan jenis tes yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ketaatan pasien akan instruksi yang diberikan oleh dokter atau paramedis sangat berpengaruh terhadap hasil laboratorium; tidak diikutinya instruksi yang diberikan akan memberikan penilaian hasil laboratorium yang tidak tepat. Hal yang sama juga dapat terjadi bila keluarga pasien yang merawat tidak mengikuti instruksi tersebut dengan baik.

2.       PERSIAPAN PENGUMPULAN SPESIMEN
Spesimen yang akan diperiksa laboratorium haruslah memenuhi persyaratan sebagai berikut :
·         Jenisnya sesuai jenis pemeriksaan.
·         Volume mencukupi.
·         Kondisi baik : tidak lisis, segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, tidak berubah bentuk, steril (untuk kultur kuman).
·         Pemakaian antikoagulan atau pengawet tepat.
·         Ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat.
·         Identitas benar sesuai dengan data pasien.
Sebelum pengambilan spesimen, periksa form permintaan laboratorium. Identitas pasien harus ditulis dengan benar (nama, umur, jenis kelamin, nomor rekam medis, dsb) disertai diagnosis atau keterangan klinis. Periksa apakah identitas telah ditulis dengan benar sesuai dengan pasien yang akan diambil spesimen.

Tanyakan persiapan yang telah dilakukan oleh pasien, misalnya diet, puasa. Tanyakan juga mengenai obat-obatan yang dikonsumsi, minum alkohol, merokok, dsb. Catat apabila pasien telah mengkonsumsi obat-obatan tertentu, merokok, minum alkohol, pasca transfusi, dsb. Catatan ini nantinya harus disertakan pada lembar hasil laboratorium.

a.      Peralatan
Peralatan yang digunakan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
·         bersih, kering.
·         tidak mengandung deterjen atau bahan kimia.
·         terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat dalam spesimen.
·         sekali pakai buang (disposable).
·         steril (terutama untuk kultur kuman)
·         tidak retak/pecah, mudah dibuka dan ditutup rapat, ukuran sesuai dengan volume spesimen.
b.      Antikoagulan
Antikoagulan adalah bahan kimia yang digunakan untuk mencegah pembekuan darah. Jenis antikoagulan yang dipergunakan harus disesuaikan dengan jenis pemeriksaan yang diminta. Volume darah yang ditambahkan juga harus tepat.

c.       Pemilihan Lokasi Pengambilan Spesimen
Tentukan lokasi pengambilan spesimen sesuai dengan jenis spesimen yang diperlukan, seperti :
·         Darah vena umumnya diambil dari vena lengan (median cubiti, vena cephalic, atau vena basilic). Tempat pengambilan tidak boleh pada jalur infus atau transfusi, bekas luka, hematoma, oedema, canula, fistula.
·         Darah arteri umumnya diambil dari arteri radialis (pergelangan tangan), arteri brachialis (lengan), atau arteri femoralis (lipat paha).
·         Darah kapiler umumnya diambil dari ujung jari tengah atau jari manis tangan bagian tepi atau pada daerah tumit 1/3 bagian tepi telapak kaki pada bayi. Tempat yang dipilih untuk pengambilan tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti sianosis atau pucat.
·         Spesimen untuk pemeriksaan biakan kuman diambil dari tempat yang sedang mengalami infeksi, kecuali darah dan cairan otak.
d.      Waktu Pengambilan
Penentuan waktu pengambilan spesimen penting untuk diperhatikan.
·         Umumnya pengambilan dilakukan pada waktu pagi (ideal).
·         Spesimen untuk kultur kuman diambil sebelum pemberian antibiotik.
·         Spesimen untuk pemeriksaan GO diambil 2 jam setelah buang air yang terakhir.
·         Spesimen untuk malaria diambil pada waktu demam.
·         Spesimen untuk mikrofilaria diambil pada tengah malam.
·         Spesimen dahak untuk pemeriksaan BTA diambil pagi hari setelah bangun tidur.
·         Spesimen darah untuk pemeriksaan profil besi diambil pada pagi hari dan setelah puasa 10-12 jam
3.       PENGAMBILAN SPESIMEN
Ø Hal-hal yang harus diperhatikan pada pengambilan spesimen adalah :
1.      Tehnik atau cara pengambilan. Pengambilan spesimen harus dilakukan dengan benar sesuai dengan standard operating procedure (SOP) yang ada.
2.      Cara menampung spesimen dalam wadah/penampung.
o    Seluruh sampel harus masuk ke dalam wadah (sesuai kapasitas), jangan ada yang menempel pada bagian luar tabung untuk menghindari bahaya infeksi.
o    Wadah harus dapat ditutup rapat dan diletakkan dalam posisi berdiri untuk mencegah spesimen tumpah.
o    Memindahkan spesimen darah dari syringe harus memperhatikan hal-hal seperti berikut :
§  Darah harus segera dimasukkan dalam tabung setelah sampling.
§  Lepaskan jarum, alirkan darah lewat dinding tabung perlahan-lahan agar tidak terjadi hemolisis.
§  Untuk pemeriksaan kultur kuman dan sensitivitas, pemindahan sampel ke dalam media dilakukan dengan cara aseptik
§  Pastikan jenis antikoagulan dan volume darah yang ditambahkan tidak keliru.
§  Homogenisasi segera darah yang menggunakan antikoagulan dengan lembut perlahan-lahan. Jangan mengkocok tabung keras-keras agar tidak hemolisis.

o    Menampung spesimen urin
§  Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar
§  Sebaiknya pasien diinstruksikan membuang urine yang mula-mula keluar sebelum mengumpulkan urine untuk diperiksa.
§  Untuk mendapatkan specimen clean catch diperlukan cara pembersihan lebih sempurna :
§  Mulut uretra dibersihkan dengan sabun dan kemudian membilasnya sampai bersih.
§  Penderita wanita harus lebih dulu membersihkan labia minora, lalu harus merenggangkannya pada waktu kencing.
§  Perempuan yang sedang menstruasi atau yang mengeluarkan banyak secret vagina, sebaiknya memasukkan tampon sebelum mengumpulkan specimen.
§  Bagian luar wadah urine harus dibilas dan dikeringkan setelah spesimen didapat dan keterangan tentang pemeriksaan harus jelas dicantumkan.
o   Menampung spesimen tinja
§  Sampel tinja sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Jika sangat diperlukan, sampel tinja juga dapat diperoleh dari pemeriksaan colok dubur.
§  Masukkan sampel ke dalam wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, dapat ditutup rapat, dapat dibuka dengan mudah dan bermulut lebar.
o    Menampung spesimen dahakPenting untuk mendapatkan sekret bronkial dan bukan ludah atau sekret hidung.
§  Sediakan wadah yang bersih, kering, tidak terkontaminasi oleh bahan apapun, mudah dibuka, mudah ditutup, dan bermulut lebar. Untuk pewarnaan BTA, jangan gunakan wadah yang mengandung bercak lilin atau minyak, sebab zat ini dapat dilihat sebagai bintik-bintik tahan asam dan dapat menyulitkan penafsiran.
§  Sebelum pengambilan spesimen, penderita diminta berkumur dengan air, bila mungkin gosok gigi terlebih dulu. Bila memakai gigi palsu, sebaiknya dilepas dulu.
§  Pada saat pengambilan spesimen, penderita berdiri tegak atau duduk tegak
§  Penderita diminta untuk menarik nafas dalam 2 – 3 kali kemudian keluarkan nafas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang kali sampai dahak keluar.
§  Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung dalam wadah dengan cara mendekatkan wadah ke mulut.
§  Amati keadaan dahak. Dahak yang memenuhi syarat pemeriksaan akan tampak kental purulen dengan volume cukup ( 3 – 5 ml )
§  Tutup wadah dengan rapat untuk menghindari kontaminasi dari udara dan secepatnya dikirim ke laboratorium.
Ø Sumber-sumber kesalahan pada pengambilan spesimen darah :
1.         Pemasangan turniquet terlalu lama dapat menyebabkan :
o    Protein (termasuk enzim) , Ca2+, laktat , fosfat, dan Mg2+ meningkat.
o    pH menurun, hemokonsentrasi.
o    PPT dan APTT mungkin memendek karena pelepasan tromboplastin jaringan ke dalam sirkulasi darah.
2.         Pemompaan menyebabkan kalium, laktat, glukosa, dan Mg2+ meningkat, sedangkan pH menurun
3.         Pengambilan darah terlalu lama (tidak sekali tusuk kena) dapat menyebabkan :
o    trombosit dan fibrinogen menurun; PPT dan APTT memanjang.
o    kalium, LDH dan SGPT/ALT meningkat.
4.         Pengambilan darah pada jalur infus dapat menyebabkan :
o    natrium meningkat pada infus saline.
o    kalium meningkat pada infus KCl.
o    glukosa meningkat pada infus dextrose.
o    PPT, APTT memanjang pada infus heparine.
o    kreatinin, fosfat, LDH, SGOT, SGPT, Hb, Hmt, lekosit, trombosit, eritrosit menurun pada semua jenis infus.
5.         Homogenisasi darah dengan antikoagulan yang tidak sempurna atau keterlambatan homogenisasi menyebabkan terbentuknya bekuan darah.
6.         Hemolisis dapat menyebabkan peningkatan K+, Mg2+, fosfat, aminotransferase, LDH, fosfatase asam total
4.       IDENTIFIKASI SPESIMEN
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen adalah tahapan yang harus dilakukan karena merupakan hal yang sangat penting. Pemberian identitas meliputi pengisian formulir permintaan pemeriksaan laboratorium dan pemberian label pada wadah spesimen. Keduanya harus cocok sama. Pemberian identitas ini setidaknya memuat nama pasien, nomor ID atau nomor rekam medis serta tanggal pengambilan. Kesalahan pemberian identitas dapat merugikan.
Untuk spesimen berisiko tinggi (HIV, Hepatitis) sebaiknya disertai tanda khusus pada label dan formulir permintaan laboratorium.

5.       PENGIRIMAN SPESIMEN KE LABORATORIUM

Spesimen yang telah dikumpulkan harus segera dikirim ke laboratorium :
1.      Sebelum mengirim spesimen ke laboratorium, pastikan bahwa spesimen telah memenuhi persyaratan seperti yang tertera dalam persyaratan masing-masing pemeriksaan.
2.      Apabila spesimen tidak memenuhi syarat agar diambil / dikirim ulang.
3.      Pengiriman spesimen disertai formulir permintaan yang diisi data yang lengkap. Pastikan bahwa identitas pasien pada label dan formulir permintaan sudah sama.
4.      Secepatnya spesimen dikirim ke laboratorium. Penundaan pengiriman spesimen ke laboratorium dapat dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan spesimen. Penundaan terlalu lama akan menyebabkan perubahan fisik dan kimiawi yang dapat menjadi sumber kesalahan dalam pemeriksaan, seperti :
o    Penurunan kadar natrium ( Na+ ), glukosa darah, angka lekosit, angka trombosit.
o    Perubahan morfologi sel darah pada pemeriksaan mikroskopik
o    PPT / APTT memanjang.
o    Peningkatan kadar kalium ( K+ ), phosphate, LDH, SGPT.
o    Lisisnya sel pada sample LCS, transudat, eksudat.
o    Perkembangbiakan bakteri
o    Penundaan pengiriman sampel urine :
§  Unsur-unsur yang berbentuk dalam urine (sediment), terutama sel-sel eritrosit, lekosit, sel epitel dan silinder mulai rusak dalam waktu 2 jam.
§  Urat dan fosfat yang semula larut akan mengendap, sehingga menyulitkan pemeriksaan mikroskopik atas unsur-unsur lain.
§  Bilirubin dan urobilinogen teroksidasi bila berkepanjangan terkena sinar matahari.
§  Bakteri-bakteri akan berkembang biak yang akan menyebabkan terganggunya pemeriksaan bakteriologis dan pH.
§  Jamur akan berkembang biak
§  Kadar glukosa mungkin menurun dan kalau semula ada, zat-zat keton dapat menghilang.Apabila akan ditunda pengirimannya dalam waktu yang lama spesimen harus disimpan dalam refrigerator/almari es pada suhu 2 – 8 oC paling lama 8 jam.
5.      Pengiriman sample sebaiknya menggunakan wadah khusus, misalnya berupa kotak atau tas khusus yang tebuat dari bahan plastik, gabus (styro-foam) yang dapat ditutup rapat dan mudah dibawa.
6.       PENANGANAN SPESIMEN
·         Identifikasi dan registrasi spesimen
·         Seluruh spesimen harus diperlakukan sebagai bahan infeksius
·         Patuhi cara pengambilan spesimen dan pengisian tabung yang benar
·         Gunakan sentrifus yang terkalibrasi
·         Segera pisahkan plasma atau serum dari darah dalam tabung lain, tempeli label
·         Segera distribusikan spesimen ke ruang pemeriksaan
7.       PENYIMPANAN SPESIMEN
·         Penyimpanan spesimen dilakukan jika pemeriksaan ditunda atau spesimen akan dikirim ke laboratorium lain.
·         Lama penyimpanan harus memperhatikan, jenis pemeriksaan, wadah dan stabilitasnya.
·         Hindari penyimpanan whole blood di refrigerator.
·         Sampel yang dicairkan (setelah dibekukan) harus dibolak-balik beberapa kali dan terlarut sempurna. Hindari terjadinya busa.
·         Simpan sampel untuk keperluan pemeriksaan konfirmasi / pengulangan.
·         Menyimpan spesimen dalam lemari es dengan suhu 2-8ºC, suhu kamar, suhu -20ºC, -70ºC atau -120ºC jangan sampai terjadi beku ulang.
·         Untuk jenis pemeriksaan yang menggunakan spesimen plasma atau serum, maka plasma atau serum dipisahkan dulu baru kemudian disimpan.
·         Memberi bahan pengawet pada spesimen.
·         Menyimpan formulir permintaan lab di tempat tersendiri
Ø  Waktu penyimpanan spesimen dan suhu yang disarankan :
·         Kimia klinik         : 1 minggu dalam referigerator.
·         Imunologi             : 1 minggu dalam referigerator.
·         Hematologi          : 2 hari pada suhu kamar.
·         Koagulasi             : 1 hari dalam referigerator.
·         Toksikologi          : 6 minggu dalam referigerator.
·         Blood grouping    : 1 minggu dalam referigerator.
2.4 Persiapan dan pengambilan specimen.
Ø  PERSIAPAN DAN PENGAMBILAN SPESIMEN
1.         Pemeriksaan Darah
a.    Tempat pengambilan darah untuk berbagai macam pemeriksaan laboratorium :
o   Perifer (pembuluh darah tepi).
o   Vena.
o   Arteri.
o   Pada orang dewasa diambil pada ujung jari atau daun telinga bagian bawah.
o   Pada bayi dan anak kecil dapat diambil pada ibu jari kaki atau tumit.

b.    Bentuk pemeriksaan :
o   Jenis/golongan darah.
o   HB.
o   Gula darah.
o   Malaria.
o   Filaria, dll.

c.    Persiapan alat :
o   Lanset darah atau jarum khusus.
o   Kapas alcohol.
o   Kapas kering.
o   Alat pengukur Hb/kaca objek/botol pemeriksaan, tergantung macam pemeriksaan.
o   Bengkok.
o   Hand scoon.
o   Perlak dan pengalas

d.   Prosedur kerja :
o   Mendekatkan alat.
o   Memberitahu klien dan menyampaikan tujuan serta langkah prosedur.
o   Memasang perlak dan pengalas.
o   Memakai hand scoon.
o   Mempersiapkan bagian yang akan ditusuk, tergantung jenis pemeriksaan.
o   Kulit dihapushamakan dengan kapas alcohol.
o   Bekas tusukan ditekan dengan kapas alcohol.
o   Merapikan alat.
o   Melepaskan hand scoon.

2.      Pemeriksaan Urine

a.    Kegunaan :
o   Menafsirkan proses-proses metabolism.
o   Mengetahui kadar gula pada tiap-tiap waktu makan (pada pasien DM).
b.    Jenis pemeriksaan :
o   Urine sewaktu
Urine yang dikeluarkan sewaktu-waktu bilamana diperlukan pemeriksaan.
o   Urine pagi
Urine yang pertama dikeluarkan sewaktu pasien bangun tidur.
o   Urine pasca prandial
Urine yang pertama kali dikeluarkan setelah pasien makan (1,5-3 jam sesudah makan).
o   Urine 24 jam
Urine yang dikumpulkan dalam waktu 24 jam.

c.    Persiapan alat :
o   Formulir khusus untuk pemeriksaan urine.
o   Wadah urine dengan tutupnya.
o   Hand scoon.
o   Kertas etiket.
o   Bengkok.
o   Buku ekspedisi untuk pemeriksaan laboratorium

d.   Prosedur tindakan :
o   Mencuci tangan.
o   Mengisi formulir.
o   Memberi etiket pada wadah.
o   Memakai hand scoon.
o   Menuangkan 100 cc urine dari bengkok ke dalam wadah kemudian ditutup rapat.
o   Menyesuaikan data formulir dengan data pada etiket.
o   Menuliskan data dari formulir ke dalam buku ekspedisi.
o   Meletakkan wadah ke dalam bengkok atau tempat khusus bertutup..
o   Membereskan dan merapikan alat.
o   Melepas hand scoon.
o   Mencuci tangan.

2.5  Tehnik Pengambilan dan Pengiriman Spesimen

Ø  PENGAMBILAN SPESIMEN
Salah satu cara menanggulangi penyakit infeksi adalah dengan menentukan penyebab dan kemudian memberi terapi yang rasional berdasarkan hasil uji laboratorium. Dalam hal ini peranan laboratorium sebagai penunjang diagnosis dan terapi penyakit infeksi menjadi sangat penting .
Hasil pemeriksaan mikrobiologik sangat tergantung oleh kualitas spesimen. Spesimen yang diperiksa di lab Mikrobiologi sebagian besar merupakan klinik berkaitan dengan penyakit infeksi. Kualitas specimen ditentukan oleh metoda pengambilan dan proses tranportasi ke laboratorium. Hasil pemeriksaan mikrobiologik negatif tidak selalu berarti bahwa diagnosis salah.

Kegagalan isolasi mikroorganisme penyebab infeksi sering ditentukan oleh beberapa hal, antara lain :
o   Pengambilan dan pengiriman spesimen yang tidak benar
o   Teknik atau cara kerja di laboratorium uang tidak tepat
Pengambilan specimen atau bahan pemeriksaan merupakan langkah awal yang sangat menentukan hasil pemeriksaan dalam rangka memperoleh jawaban yang menentukan penyebab infeksi. Dapat terjadi bahwa yang diisolasi bukan penyebab tetapi organisme flora normal sehingga akan memberikan intreprestasi hasil laboratorium yang keliru dan menyebabkan langkah terapi yang salah.
Hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologik sangat ditentukan oleh cara pengambilan, saat pengambilan dan seleksi spesimen. Beberapa hal penting yang perlu dilakukan untuk memperoleh hasil pemerisaan yang baik adalah :
1.         Bahan pemeriksaan sedapat mungkin diambil dari lokasi yang paling besar kemungkinannya mengandung penyebab infeksi pada stadium tertentu.
2.         Pada lokasi tubuh yang pada keadaan normal mengandung flora normal, hasil laboratorium positif sebaiknya dikorelasikan dengan keterangan klinik , sehingga mendapatkan suatu interpertasi yang bermakna.
3.         Hasil laboratorium positif sangat bermakna bila diperoleh dari lokasi tubuh yang dalam keadaan normal steril (cairan serebro – spinal darah, cairan pleura, cairan).
Agar diperoleh kualitas spesimen yang baik, pengambilan spesimen harus memenuhi beberapa kriteria tertentu. 
ü  Pedoman Umum
Spesimen yang diambil harus memiliki syarat sebagai brikut :
1.    Representatif untuk proses infeksi :
Bahan pemeriksaan harus benar-benar berasal dari tempat infeksi.
Misalnya:
o    bahan pemeriksaan dari luka, sebaiknya diambil dari dasar luka dan dihindari kontak dengan kulit sekitarnya sehingga tidak memungkinkan bagi kontaminasi oleh flora kulit.
o    bahan dari asbes diambil dengan cara aspirasi steril.
o    sebelum dilakukan pengambilan urine, alat genital dibersihkan untuk menghindari kontaminasi.
o    bahan sputum harus benar-benar berasal dari saluran nafas bagian bawah, bukan hanya berupa saliva.




2.    Jumlah spesimen cukup untuk memungkinkan pemeriksaan.
Misalnya :
o    bahan dari pus dalam keadaan infeksi aktif, jumlahnya tidak perlu diperhatikan, tetapi pada infeksi kronik jumlah bahan yang diambil sebaiknya agak banyak.
o    Bahan berupa darah, jumlah nya harus cukup. Perbandingan volume darah dengan medium cair adalah 1 :5 atau 1 :10.
o    Bahan urine : sebaiknya diambil setelah penderita tidak berkemih sekurang-kurangnya 3 jam, sehingga diperoleh volume cukup untuk diambil.

3.    Saat pengambilan perlu diperhatikan. Pengambilan harus dilakukan pada stadium yang tepat, untuk ini perlu diketahui riwayat penyakit penderita. Pada demam tifoid minggu pertama, bakteri akan dapat ditemukan di darah. Sedangkan pada minggu ke 2 dan ke 3, tinja dan urine biasanya positif. S. typhi akan ditemukan pada tinja dan urine selama fase akut dari stadium diare.
4.    Terhindar dari kemungkinan kontaminasi baik dari alat, lingkungan, bagian tubuh lain, dan petugas pengambil. Alat  dan tempat spesimen harus steril dan sesuai. Misalnya pengambilan urine atau sputum sebaiknya dengan pot bermulut lebar. Setelah bahan ditampung hendaknya ditutup rapat dan dicegah adanya kebocoran untuk menghindari kontaminasi dan pencemaran dari dan pada lingkungan.
5.    Pengambilan spesimen dilakukan sebelum pemberian terapi antibiotik. Perlu diperhatikan hal-hal sbb :
o  cairan serebrospinal yang purulen, dalam waktu 24 jam setelah pemberian antibiotik seringkali sudah  tidak mengandung bakteri penyebab, misalkan Haemophilus influenzae.
o  selama pemberian terapi antibiotik pada penderita salmonelosis, dalam tinja penderita tidak akan diketemukan S.typhi.
o  Bila bahan yang diperiksa berasal dari pasien yang telah diterapi, sebaiknya klinisi memberi catatan khusus, sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan tertentu. Misalnya dapat diberikan Penisinase untuk merusak penisilin. Jadi pada penderita yang telah diterapi bisa dilakukan pemeriksaan mikrobiologik.
6.    Bahan pemeriksaan sebaiknya segera dibawa ke laboratorium atau kalau diperlukan dapat pula digunakan media transport yang sesuai, agar bisa diperiksa secepatnya.

ü  Pedoman khusus
Dalam melakukan pengambilan spesimen klinik, perlu diperhatikan beberapa hal khusus sesuai lokasi pengambilan :
1.      Cara Pengambilan Darah
Darah biasanya diambil pada saat demam tinggi, dari vena cubiti. Pertama-tama dilakukan palpasi untuk mencari letak vena yang akan diambil. Sebelum pengambilan kulit sekitarnya diusap dengan antiseptik, misalnya Jodium tincture 2%, atau alkhohol 80%. Setelah itu tidak boleh dilakukan palpasi lagi, juga tidak boleh mengusap jarum suntik dengan kapas alkohol.
o    Volume pengambilan : 10-20 ml untuk dewasa
o    1-5 ml untuk anak- anak
Karena organisme pada bakteri jumlahnya kecil, sebaiknya segera diinokulasikan kedalam media kultur setelah pengambilan.
Contoh media kultur darah yang digunakan:
o    Trypticase Soy Broth, untuk kultur aerob
o    Brain Heart Infusion, untuk kultur bakteri aerob atau anaerob
o    Thioglikolat broth, untuk kultur anaerob
o    Gal medium, untuk kultur Salmonella.
Dapat pula ditransport secara stril dalam tabung mengandung SPS Interval pengambilan :
o   endocarditis                        : 3 kali pengambilan (kultur) dalam 24 jam
o   bakterima                            : 3 kali pengambilan (kutur) dalam 24-48 jam
o   pasien yg diberi antibiotik : 4-6 kali pengambilan dalam 48 jam.

2.      Cara Pengambilan Tinja atau Usapan Rektal
Tinja diambil dari bagian yang diperkirakan banyak mengandung organisme penyebab (lendir atau darah), ditampung pada tempat steril, harus segera dibawa ke laboratorim. Sedangkan usapan rectal diambil dengan kapas lidi steril, diputar (360º) pada mukosa rektal diambil dengan kedalaman 1-2 cm, kemudian dimasukkan media transport bersama kapas lidi atau kedalam tabung kosong bertutup ulir steril, tutup rapat, segera dikirim ke laboratorium. Sebaiknya tidak digunakan kertas toilet dalam pengambilan/penampungan tinja, karena pada umumnya mengandung garam bismuth yang dapat membunuh mikroorganisme.
3.      Cara Pengambilan Urine
Bahan berupa urine dapat diambil dengan berbagai teknik :
o   aspirasi supra public
o   kateterisasi
o   urine pancaran tengah (Mid Stream Urine)
Cara pertama dan kedua hanya dilakukan oleh dokter dengan indikasi tertentu karena mengandung resiko, harus dilakukan secara aseptik untuk menghindari infeksi. Volume urine minimal 10 ml dan segera dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Seperti diketahui urine adalah medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri, terutama bagi pemeriksaan angka kuman harus segera diperiksa agar tidak terjadi pertumbuhan pesat sebelum diperiksa. Apabila terpaksa bisa disinpan dalam almari pendingin selama 24 jam, tetapi dianjurkan tidak lebih dari 8 jam.
4.      Cara Pengambilan Dahak atau Sputum
Dahak yang diambil diusahakan tidak tercemar oleh flora normal di rongga mulut, sebaiknya pasien diminta berkumur sebelumnya dengan akuades steril, atau larutan garam fisiologis steril. Dahak ditampung didalam pot steril, dengan cara batuk dalam-dalam, perlu kerjasama dengan pasien. Segera mungkin ditanam dalam media perbenihan yang sesuai dengan jenis pemeriksaan.
5.      Cara Pengambilan Discharge Mukosa
Bahan dari mukosa diambil dengan kapas lidi steril, bahan diambil dari : hidung, tenggorokan, mata, telinga, lubang urogenital, luka.
6.      Abses
Seleksi dan pengambilan yang adekuat sangat berpengaruh pada hasil pemerisaan. Jika lesi luas atau terdapat beberapa lesi, bahan diambil dari beberapa tempat. Sampel dari abses harus mengandung pus dan bagian dari dinding abses. Sebelum pengambilan kulit dibersihkan dengan larutan fisiologis steril.
7.      Cara Pengambilan Cairan Serebrospinal
Dilakukan dengan punksi lumbal oleh seorang dokter ahli dengan memperhatikan aspek sterilitas alat dan teknik pengambilan secara benar. Kuman pada bahan ini pada umumnya hanya bertahan beberapa jam, sehingga harus segera dikirim ke laboratorium. Meningokokus sangat rentan terhadap suhu rendah, sama sekali tidak dibenarkan menyimpan bahan pemeriksaan ini pada almari pendingin.
Ø  PENGIRIMAN SPESIMEN
Apabila bahan pemeriksaan diambil diluar laboratorium seharusnya segera dikirim untuk diperiksa. Akan tetapi bila tidak memungkinkan karena beberapa keadaan, dapat digunakan media transport sebagai media yang mampu memberikan bahan pertumbuhan untuk mikroorganisme tersangka, terutama bagi organisme yang sensitif terhadap pengaruh lingkungan. Kadang-kadang bahan pemeriksaan yang tidak memerlukan media transport karena bahan tersebut telah mengandung bahan yang diperlukan bagi pertumbuhan organisme tersangka. Pada saat pengiriman temperatur dan tempat pengiriman harus diperhatikan. Adapun medium transport yang biasa digunakan adalah : medium Carry & Blair, medium Stuart, medium Amies.


1.      Pengiriman Darah
Setelah diperoleh darah harus segera dikirim ke laboratorium karena kuman didalam darah akan dipengaruhi oleh sel-sel dalam darah ataupun zat-zat yang ada dalam darah. Secara umum telah direkomendasikan bahwa darah untuk perbenihan ditanam dalam perbenihan cair dengan perbandingan 1 : 10 untuk membantu menetralkan efek bakterisidal karena adanya antimikroba dalam (darah pada pasien yang telah diterapi) atau efek komplemen dan fagosit.
Bila darah dikirim tanpa menggunakan perbenihan cair seperti penjelasan dimuka, maka volume darah yang dikirim untuk kepentingan isolasi adalah sebanyak 10-20 ml dengan menggunakan antikoagulan, sebaiknya digunakan SPS (Sodium Polynethol Sulfonate) 0.05% atau 0.025 %. Disamping sebagai antikoagulan, SPS merupakan antikomplemen dan antifagosit dan dapat menetralkan efek anti mikroba. Suhu pengiriman supaya dipertahankan untuk tidak lebih dari 37ºC, dan terhindar dari kekeringan.
2.      Pengiriman Tinja
Tinja dapat dikirim tanpa medium transport bila tidak terlalu lama. Apabila jarak pengiriman jauh sehingga memerlukan waktu lebih dari 4 jam, maka perlu digunakan media transport yang sekaligus merupakan medium selektif bagi jenis kuman tertentu. Medium transport atau selektif ini berupa medium cair, misalknya : Air peptone alkali, Selenit Broth, dsb. Perlu diperhatikan suhu dan hindarkan dari kekeringan.

3.      Pengiriman urine
Urine dikirim tanpa medium transport karena urine merupakan medium yang baik pertumbuhan kuman. Pengiriman bahan ini harus dilakukan segera mungkin untuk menghindari perkembangan pesat organisme tersangka, dalam waktu 1 jam organisme per ml akan menjadi berlipat ganda. Hal ini perlu diperhatikan mengingat diagnosis bakteriuri didasarkan pada jumlah kuman per ml urine. Suhu dan  kekeringan harus diperhatikan.

4.      Pengiriman Dahak
Dikirim tanpa medium transport, tetapi harus segera.

5.      Pengiriman discharge mukosa
Setelah diambil dengan kapas lidi dapat dimasukkan dalam media transport, kapas lidi dimasukkan dalam tabung media transport secara aseptic.

6.    Pengiriman abses, jaringan, spesimen drainage
Bahan pemeriksaan dikirim dengan medium transport semisolid Sturt, Carry & Blair (untuk kuman anaerob). Spesimen dari usapan (swab), sebaliknya dihindari, lebih baik spesimen langsung. Bila terpaksa, swab harus merupakan sampel yang mewakili bagian yang mengandung kuman penyebab.

7.      Pengiriman Cairan Serebrospinal
Bahan ini dikirim tanpa medium transport, tetapi harus sesegera mungkin dibawa ke laboratorium dalam waktu kurang dari 1 jam. Segera ditanam pada medium perbenihan padat yang cocok.

2.6  Komplikasi Pengambilan Specimen dan Cara Mencegahnya

1.      Syncope
Syncope adalah keadaan dimana pasien kehilangan kesadarannya beberapa saat/sementara waktu sebagai akibat menurunnya tekanan darah. Gejala dapat berupa rasa pusing, keringat dingin, nadi cepat, pengelihatan kabur/gelap, bahkan bisa sampai muntah. Hal ini biasanya terjadi karena adanya perasaan takut atau akibat pasien puasa terlalu lama. Rasa takut atau cemas bisa juga timbul karena kurang “percaya diri” Itulah sebabnya mengapa perlu memberikan penjelasan kepada pasien tentang tujuan pengambilan darah dan prosedur yang akan dialaminya. Penampilan dan prilaku seorang Flebotomis juga bisa mempengaruhi keyakinan pasien sehingga timbul rasa curiga/was-was ketika proses pengambilan darah akan dilaksanakan. Oleh sebab itu penampilan dan prilaku seorang flebotomis harus sedemikian rupa sehingga tampak berkompetensi dan Fropesional.
Ø  Cara mengatasi :
o   Hentikan pengambilan darah. Baringkan pasien ditempat tidur, kepala dimiringkan kesalah satu sisi. Tungkai bawah ditinggikan (lebih tinggi dari posisi kepala).
o   Longgarkan baju yang sempit dan ikat pinggang. Minta pasien menarik nafas panjang.
o   Hubungi dokter, Pasien yang tidak sempat dibaringkan, diminta menundukan kepala diantara kedua kakinya dan menarik nafas panjang.
Ø  Cara Pencegahan :
o    Pasien diajak bicara supaya perhatiannya dapat dialihkan.
o    Pasien yang akan dirawat syncope sebaiknya dianjurkan berbaring pada waktu pengambilan darah.
o    Kursi pasien mempunyai sandaran dan tempat/sandaran tangan.
2.        Rasa Nyeri
Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Nyeri bisa timbul alibat alkohol yang belum kering atau akibat penarikan jarum yang terlalu kuat.
Ø  Cara pencegahan :
o   Setelah disinfeksi kulit, yakin dulu bahwa alcohol sudah mongering sebelum pengambilan darah dilakukan.
o   Penarikan jarum tidak terlalu kuat.
o   Penjelasan/ Menggambarkan sifat nyeri yang sebenarnya (memberi contoh)
3.      Hematoma
Hematoma dalah terkumpulnya massa darah dalam jaringan (dalam Hal Flebotomi/jaringan dibawah kulit ) sebagai akibat robeknya pembuluh darah. Faktor penyebab terletak pada teknik pengambilan darah :


o   Jarum terlalu menungkik sehingga menembus dinding vena
o   Penusukan jarum dangkal sehingga sebagian lubang jarum berada diluar vena.
o   Setelah pengambilan darah, tempat penusukan kurang ditekan atau kurang lama ditekan.
o   Pada waktu jarum ditarik keluar dari vena, tourniquet (tourniket) belum dikendurkan.
o   Temapat penusukan jarum terlalu dekat dengan tempat turniket.

Ø  Cara mengatasi :
Jika dalam proses pengambilan darah terjadi pembengkakan kulit disekitar tempat penusukan jarum segera :
o    Lepaskan turniket dan jarum.
o    Tekan tempat penusukan jarum dengan kain kasa.
o    Angkat lenganpasien lebih tinggi dari kepala (+- 15 menit).
o    Kalau perlu kompres untukmengurangi rasa nyeri

4.      Pendarahan
Komplikasi pendarahan lebih sering terjadi pada pengambilan darah alteri. Pengambilan darah kapiler lebih kurang resikonya.Pendarahan yang berlebihan (sukar berhenti) terjadi karma terganggunya system kouglasi darah pasien. Hal ini bisa terjadi karena :
o   Pasien mengalami pengobatan dengan obat antikougulan sehinggamenghambat pembekuan darah.
o   Pasien menderita gangguan pembekuan darah ( trombositopenia, defisiensi factor pembeku darah (misalnya hemofilia).
o   Pasien mengidap penyakit hati yang berat (pembentukan protrombin, fibrinogen terganggu ).
Ø  Cara mengatasi :
Jika dalam proses pengambilan darah terjadi pembengkakan kulit disekitar tempat penusukan jarum segera :
o   Lepaskan turniket dan jarum.
o   Tekan tempat penusukan jarum dengan kain kasa.
o   Angkat lenganpasien lebih tinggi dari kepala (+- 15 menit).
o   Kalau perlu kompres untukmengurangi rasa nyeri
5.        Allergi
Alergi bisa terjadi terhadap bahan- bahan yang dipakai dalam flebotom, misalnya terhadap zat antiseptic/desinfektan, latex yang ada pada sarung tangan, turniket atau plester. Gejala alergi bisa ringan atau berat, berupa kemerahan, rhinitis, radang selaput mata, kadang-kadang bahkan bisa (shock).
Ø  Cara mengatasi :
o   Tenangkan pasien, beri penjelasan.
o   Panggil dokter atau perawat untuk penanganan selanjutnya

Ø  Cara pencegahan :
o   Wawancara apa ada riwayat allergi.
o   Memakai plester atau sarung-tangan yang tidak mengandung latex
6.      Trombosis
Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali ditempat yang sama sehingga menimbulkan kerusaka dan peradangan setempat dan berakibat dengan penutupan ( occlusion ) pembuluh darah. Hal ini juga terlihat pada kelompok pengguna obat ( narcotics ) yang memakai pembuluh darah vena.
Ø  Cara pencegahan :
o   Hindari pengambilan berulang ditempat yang sama.
o   Pembinaan peninap narkotika.
7.      Radang Tulang
Penyakit ini sering terjadi pada bayi karena jarak kulit-tulang yangsempit dan pemakaian lanset yang berukuran panjang
Ø  Cara mengatasi :
o    Mengatasi peradangan tulang
Ø  Cara Pencegahan :
o    Menggunakan lanset yang ukurannya sesuai. Saat ini sudah dipasarkan lanset dalam berbagai ukuran disesuaikan dengan kelompok usia. Setiap kejadian komplikasi harus dilaporkan kepada dokter kepada dan dicatat dalam buku catatan tersendiri dengan mencantumkan identitas pasien selengkapnya, tanggal dan jam kejadian, dan tindakan yang diberikan.
8.    Amnesia
Pada bayi, terutama bayi baru lahir dimana volume darah sedikit, pengambilan darah berulang dapat menyebabkan anemia. Selain itu pengambilan darah kapiler pada bayi terutama yang bertulang dapat menyebabkan selulitis, abses, osteomielitis, jaringan parut dan nodulklasifikasi. Nodul klasifikasi tersebut mula-mula tampak seperti lekukan yang
4-12 bulan kemudian akan menjadi nodul dan menghilang dalam 18-20 bulan.
9.      Komplikasi neuologis
Komplikasi neurologist dapat bersifat local karena tertusuknya syaraf dilokasi penusukan, dan menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang menjalar ke lengan, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Walaupun jarang, serangan kejang ( seizures) dapat pula terjadi.
Ø  Cara Penanganan :
o    Pasien yang mengalami serangan saat pengambilan darah harus dilindungi dari perlukaan.
o    Hentikan pengambilan darah, baringkan pasien dengan kepala miringkan ke satu sisi, bebaskan jalan nafas, hindari agar lidahtidak tergigit.
o    Segera mungkin aktifkan perlengkapan keselamatan, hubungi dokter.
o    Lakukan penekanan secukupnya di daerah penusukan sambil membatasi pergerakan pasien.


2.7  Nilai-Nilai Laboratorium Normal
Setiap laboratorium menentukan nilai “normal”, yang ditunjukkan pada kolom “Nilai Rujukan” atau “Nilai Norma” pada laporan laboratorium. Nilai ini tergantung pada alat yang dipakai dan cara pemakaiannya. Tidak ada standar nilai rujukan. nilai laboratorium lain dapat berbeda. Jadi angka pada laporan kita harus dibandingkan dengan nilai rujukan pada laporan, bukan dengan nilai rujukan pada lembaran ini.
Determination
Normal Reference Value
Conventional units
SI units
Blood, Plasma or Serum
Ammonia (NH3) – diffusion
20-120 mcg/dl
12-70 mcmol/L
Ammonia Nitrogen
15-45 µg/dl
11-32 µmol/L
Amylase
35-118 IU/L
0.58-1.97 mckat/L
Anion gap (Na+-[Cl - + HCO3- ]) (P)
7-16 mEq/L
7-16 mmol/L
Antithrombin III (AT III)
80–120 U/dl
800–1200 U/L
Bicarbonate
Arterial
21–28 mEq/L
21–28 mmol/L
Venous
22–29 mEq/L
22–29 mmol/L
Bilirubin
Conjugated (direct) Total
£ 0.2 mg/dl
&
0.1–1 mg/dl
£ 4 mcmol/L
&
2–18 mcmol/L
Calcitonin
< 100 pg/ml
< 100 ng/L
Calcium
Total
8.6–10.3 mg/dl
2.2–2.74 mmol/L
Ionized
4.4–5.1 mg/dl
1–1.3 mmol/L
Carbon dioxide content (plasma)
21–32 mmol/L
21–32 mmol/L
Carcinoembryonic antigen
< 3 ng/ml
< 3 mcg/L
Chloride
95–110 mEq/L
95–110 mmol/L
Coagulation screen
Bleeding time
3–9.5 min
180–570 sec
Prothrombin time
10–13 sec
10–13 sec
Partial thromboplastin time (activated)
22–37 sec
22–37 sec
Protein C
0.7–1.4 µ/ml
700–1400 U/ml
Protein S
0.7–1.4 µ/ml
700–1400 U/ml
Copper, total
70–160 mcg/dl
11–25 mcmol/L
Corticotropin (ACTH adrenocorticotropic hormone) – 0800 hr
< 60 pg/ml
< 13.2 pmol/L
Cortisol
0800 hr
5–30 mcg/dl
138–810 nmol/L
1800 hr
2–15 mcg/dl
50–410 nmol/L
2000 hr
£ 50% of 0800 hr
£ 50% of 0800 hr
Creatine kinase
Female
20–170 IU/L
0.33–2.83 mckat/L
Male
30–220 IU/L
0.5–3.67 mckat/L
Creatinine kinase isoenzymes, MB fraction
0–12 IU/L
0–0.2 mckat/L
Creatinine
0.5–1.7 mg/dl
44–150 mcmol/L
Fibrinogen (coagulation factor I)
150–360 mg/dl
1.5–3.6 g/L
Follicle-stimulating hormone (FSH)
Female
2–13 mlU/ml
2–13 IU/L
Midcycle
5–22 mlU/ml
5–22 IU/L
Male
1–8 mlU/ml
1–8 IU/L
Glucose, fasting
65–115 mg/dl
3.6–6.3 mmol/L
Glucose Tolerance Test (Oral)
(mg/dl)
(mmol/L)
Normal
Diabetic
Normal
Diabetic
Fasting
70–105
> 140
3.9–5.8
> 7.8
60 min
120–170
³ 200
6.7–9.4
³ 11.1
90 min
100–140
³ 200
5.6–7.8
³ 11.1
120 min
70–120
³ 140
3.9–6.7
³ 7.8
(g) – Glutamyltransferase (GGT)
Male
9–50 units/L
9–50 units/L
Female
8–40 units/L
8–40 units/L
Haptoglobin
44–303 mg/dl
0.44–3.03 g/L
Hematologic Tests
Fibrinogen
200–400 mg/dl
2–4 g/L
Hematocrit (Hct)
female
36%-44.6%
0.36–0.446 fraction of 1
male
40.7%-50.3%
0.4–0.503 fraction of 1
Hemoglobin A 1C
5.3%-7.5% of total Hgb
0.053–0.075
Hemoglobin (Hb)
female
12.1–15.3 g/dl
121–153 g/L
male
13.8–17.5 g/dl
138–175 g/L
Leukocyte count (WBC)
3800–9800/mcl
3.8–9.8 x 109/L
Erythrocyte count (RBC)
female
3.5–5 x 106/mcl
3.5–5 x 1012/L
male
4.3–5.9 x 106/mcl
4.3–5.9 x 1012/L
Mean corpuscular volume (MCV)
80–97.6 mcm3
80–97.6 fl
Mean corpuscular hemoglobin (MCH)
27–33 pg/cell
1.66–2.09 fmol/cell
Mean corpuscular hemoglobin concentrate (MCHC)
33–36 g/dl
20.3–22 mmol/L
Erythrocyte sedimentation rate (sedrate, ESR)
£30 mm/hr
£30 mm/hr
Erythrocyte enzymes
Glucose-6 – Pphosphate dehydrognase (G-6-PD)
250–5000 units/106 cells
250–5000 mcunits/cell
Determination
Reference Value
(Conventional units)
(SI units)
Blood, Plasma or Serum:
Ammonia (NH3) – diffusion
20–120 mcg/dl
12–70 mcmol/L
Ammonia Nitrogen
15–45 µg/dl
11–32 µmol/L
Amylase
35–118 IU/L
0.58–1.97 mckat/L
Anion gap (Na+-[Cl - + HCO3-]) (P)
7–16 mEq/L
7–16 mmol/L
Antithrombin III (AT III)
80–120 U/dl
800–1200 U/L
Bicarbonate:
Arterial
Venous
21–28 mEq/L
22–29 mEq/L
21–28 mmol/L
22–29 mmol/L
Bilirubin: Conjugated (direct) Total
£ 0.2 mg/dl
(0.1–1 mg/dl)
£ 4 mcmol/L
(2–18 mcmol/L)
Calcitonin
< 100 pg/ml
< 100 ng/L
Calcium:
Total
Ionized
8.6–10.3 mg/dl
4.4–5.1 mg/dl
2.2–2.74 mmol/L
1–1.3 mmol/L
Carbon dioxide content (plasma)
21–32 mmol/L
21–32 mmol/L
Carcinoembryonic antigen
< 3 ng/ml
< 3 mcg/L
Chloride
95–110 mEq/L
95–110 mmol/L
Coagulation screen:
Bleeding time
Prothrombin time
Partial thromboplastin time (activated)
Protein C
Protein S
3–9.5 min
10–13 sec
22–37 sec
0.7–1.4 µ/ml
0.7–1.4 µ/ml
180–570 sec
10–13 sec
22–37 sec
700–1400 U/ml
700–1400 U/ml
Copper, total
70–160 mcg/dl
11–25 mcmol/L
Corticotropin
(ACTH adrenocorticotropic hormone) – 0800 hr
< 60 pg/ml
< 13.2 pmol/L
Cortisol:
0800 hr
1800 hr
2000 hr
5–30 mcg/dl
2–15 mcg/dl
£ 50% of 0800 hr
138–810 nmol/L
50–410 nmol/L
£ 50% of 0800 hr
Creatine kinase:
Female
Male
20–170 IU/L
30–220 IU/L
0.33–2.83 mckat/L
0.5–3.67 mckat/L
Creatinine kinase isoenzymes, MB fraction
0–12 IU/L
0–0.2 mckat/L
Creatinine
0.5–1.7 mg/dl
44–150 mcmol/L
Fibrinogen (coagulation factor I)
150–360 mg/dl
1.5–3.6 g/L
Follicle-stimulating hormone (FSH):
Female
Midcycle
Male
2–13 mlU/ml
5–22 mlU/ml
1–8 mlU/ml
2–13 IU/L
5–22 IU/L
1–8 IU/L
Glucose, fasting
65–115 mg/dl
3.6–6.3 mmol/L
Glucose Tolerance Test (Oral)
Fasting
60 min
90 min
120 min
(mg/dl)
Normal
Diabetic
70–105
> 140
120–170
³ 200
100–140
³ 200
70–120
³ 140
(mmol/L)
Normal
Diabetic
3.9–5.8
> 7.8
6.7–9.4
³ 11.1
5.6–7.8
³ 11.1
3.9–6.7
³ 7.8
(g) -Glutamyltransferase (GGT):
Male
Female
9–50 units/L
8–40 units/L
9–50 units/L
8–40 units/L
Haptoglobin
44–303 mg/dl
0.44–3.03 g/L
Determination
Reference Value
Conventional units
SI units
Hematologic tests:
Fibrinogen
Hematocrit (Hct),
female
male
Hemoglobin A 1C
Hemoglobin (Hb),
female
male
Leukocyte count (WBC)
Erythrocyte count (RBC):
female
male
Mean corpuscular volume (MCV)
Mean corpuscular hemoglobin
(MCH)
Mean corpuscular hemoglobin
concentrate (MCHC)
Erythrocyte sedimentation rate
(sedrate, ESR)
200–400 mg/dl
36%-44.6%
40.7%-50.3%
5.3%-7.5% of total Hgb
12.1–15.3 g/dl
13.8–17.5 g/dl
3800–9800/mcl
3.5–5 x 106/mcl
4.3–5.9 x 106/mcl
80–97.6 mcm3
27–33 pg/cell
33–36 g/dl
£30 mm/hr
2–4 g/L
0.36–0.446 fraction of 1
0.4–0.503 fraction of 1
0.053–0.075
121–153 g/L
138–175 g/L
3.8–9.8 x 109/L
3.5–5 x 1012/L
4.3–5.9 x 1012/L
80–97.6 fl
1.66–2.09 fmol/cell
20.3–22 mmol/L
£ 30 mm/hr
Erythrocyte enzymes:
Glucose-6 -
Pphosphate dehydrognase
(G-6-PD)
Ferritin
Folic acid: normal
Platelet count
Reticulocytes
Vitamin B12
250–5000 units/106 cells
10–383 ng/ml
>3.1–12.4 ng/ml
150–450 x 103/mcl
0.5%-1.5% of erythrocytes
223–1132 pg/ml
250–5000 mcunits/cell
23–862 pmol/L
7–28.1 nmol/L
150–450 x 109/L
0.005–0.015
165–835 pmol/L
Iron:
Female
Male
30–160 mcg/dl
45–160 mcg/dl
5.4–31.3 mcmol/L
8.1–31.3 mcmol/L
Iron binding capacity
220–420 mcg/dl
39.4–75.2 mcmol/L
Isocitrate dehydrogenase
1.2–7 units/L
1.2–7 units/L
Isoenzymes
Fraction 1
Fraction 2
Fraction 3
Fraction 4
Fraction 5
14%-26% of total
29%-39% of total
20%-26% of total
8%-16% of total
6%-16% of total
0.14–0.26 fraction of total
0.29–0.39 fraction of total
0.20–0.26 fraction of total
0.08–0.16 fraction of total
0.06–0.16 fraction of total
Lactate dehydrogenase
100–250 IU/L
1.67–4.17 mckat/L
Lactic acid (lactate)
6–19 mg/dl
0.7–2.1 mmol/L
Lead
£ 50 mcg/dl
£ 2.41 mcmol/L
Lipase
10–150 units/L
10–150 units/L
Lipids:
Total Cholesterol
Desirable
Borderline-high
High
LDL
Desirable
Borderline-high
High
HDL (low)
Triglycerides
Desirable
Borderline-high
High
Very high
< 200 mg/dl
200–239 mg/dl
> 239 mg/dl
< 130 mg/dl
130–159 mg/dl
> 159 mg/dl
< 35 mg/dl
< 200 mg/dl
200–400 mg/dl
400–1000 mg/dl
> 1000 mg/dl
< 5.2 mmol/L
< 5.2–6.2 mmol/L
> 6.2 mmol/L
< 3.36 mmol/L
3.36–4.11 mmol/L
> 4.11 mmol/L
< 0.91 mmol/L
< 2.26 mmol/L
2.26–4.52 mmol/L
4.52–11.3 mmol/L
> 11.3 mmol/L
Magnesium
1.3–2.2 mEq/L
0.65–1.1 mmol/L
Osmolality
280–300 mOsm/kg
280–300 mmol/kg
Oxygen saturation (arterial)
94%-100%
0.94 – fraction of 1
PCO2, arterial
35–45 mm Hg
4.7–6 kPa
pH, arterial
7.35–7.45
7.35–7.45
Determination
Reference Value
Conventional units
SI units
PO, arterial: Breathing room air
On 100% O
80–105 mm Hg
> 500 mm Hg
10.6–14 kPa
Phosphatase (acid), total at 37°C
0.13–0.63 IU/L
2.2–10.5 IU/L or
2.2–10.5 mckat/L
Phosphatase alkaline
20–130 IU/L
20–130 IU/L or
0.33–2.17 mckat/L
Phosphorus, inorganic, (phosphate)
2.5–5 mg/dl
0.8–1.6 mmol/L
Potassium
3.5–5 mEq/L
3.5–5 mmol/L
Progesterone
Female
Follicular phase
Luteal phase
Male
0.1–1.5 ng/ml
0.1–1.5 ng/ml
2.5–28 ng/ml
< 0.5 ng/ml
0.32–4.8 nmol/L
0.32–4.8 nmol/L
8–89 nmol/L
< 1.6 nmol/L
Prolactin
1.4–24.2 ng/ml
1.4–24.2 mcg/L
Prostate specific antigen
Protein: Total
Albumin
Globulin
0–4 ng/ml
6–8 g/dl
3.6–5 g/dl
2.3–3.5 g/dl
0–4 ng/ml
60–80 g/L
36–50 g/L
23–35 g/L
Rheumatoid factor
< 60 IU/ml
< 60 kIU/L
Sodium
135–147 mEq/L
135–147 mmol/L
Testosterone:
Female
Male
6–86 ng/dl
270–1070 ng/dl
0.21–3 nmol/L
9.3–37 nmol/L
Thyroid Hormone Function Tests:
Thyroid-stimulating hormone (TSH)
Thyroxine-binding globulin capacity
Total triiodothyronine (T3)
Total thyroxine by RIA (T4)
T3 resin uptake
0.35–6.2 mcU/ml
10–26 mcg/dl
75–220 ng/dl
4–11 mcg/dl
25%-38%
0.35–6.2 mU/L
100–260 mcg/L
1.2–3.4 nmol/L
51–142 nmol/L
0.25–0.38 fraction of 1
Transaminase, AST (aspartate aminotransferase, SGOT)
11–47 IU/L
0.18–0.78 mckat/L
Transaminase, ALT (alanine aminotransferase, SGPT)
7–53 IU/L
0.12–0.88 mckat/L
Transferrin
220–400 mg/dL
2.20–4.00 g/L
Urea nitrogen (BUN)
8–25 mg/dl
2.9–8.9 mmol/L
Uric acid
3–8 mg/dl
179–476 mcmol/L
Vitamin A (retinol)
15–60 mcg/dl
0.52–2.09 mcmol/L
Zinc
50–150 mcg/dl
7.7–23 mcmol/L
1 Tergantung pada usia
2 Bayi dan anak sampai 104 U/L
3 Bayi usia 1 tahun sampai 6 mg/dl
Urine
Determination
Reference Value
Conventional units
SI units
Calcium
50–250 mcg/day
1.25–6.25 mmol/day
Catecholamines:
Epinephrine
Norepinephrine
< 20 mcg/day
< 100 mcg/day
< 109 nmol/day
< 590 nmol/day
Catecholamines, 24-hr
< 110 µg
< 650 nmol
Copper
15–60 mcg/day
0.24–0.95 mcmol/day
Creatinine:
Child
Adolescent
Female
Male
8–22 mg/kg
8–30 mg/kg
0.6–1.5 g/day
0.8–1.8 g/day
71–195 µmol/kg
71–265 µmol/kg
5.3–13.3 mmol/day
7.1–15.9 mmol/day
pH
4.5–8
4.5–8
Phosphate
0.9–1.3 g/day
29–42 mmol/day
Potassium
25–100 mEq/day
25–100 mmol/day
Protein
Total
At rest
1–14 mg/dL
50–80 mg/day
10–140 mg/L
50–80 mg/day
Protein, quantitative
< 150 mg/day
< 0.15 g/day
Sodium
100–250 mEq/day
100–250 mmol/day
Specific gravity, random
1.002–1.030
1.002–1.030
Uric acid, 24-hr
250–750 mg
1.48–4.43 mmol
1 Tergantung pada diet.
Drug Levels
Drug Determination
Reference Value
Conventional units
SI units
Aminoglycosides
Amikacin
(trough)
(peak)
1–8 mcg/ml
1.7–13.7 mcmol/L
20–30 mcg/ml
34–51 mcmol/L
Gentamicin
(trough)
(peak)
0.5–2 mcg/ml
6–10 mcg/ml
1–4.2 mcmol/L
12.5–20.9 mcmol/L
Kanamycin
(trough)
(peak)
5–10 mcg/ml
20–25 mcg/ml
nd
nd
Netilimicin
(trough)
(peak)
0.5–2 mcg/ml
6–10 mcg/ml
nd
nd
Streptomycin
(trough)
(peak)
< 5 mcg/ml
5–20 mcg/ml
nd
nd
Tobramycin
(trough)
(peak)
0.5–2 mcg/ml
5–20 mcg/ml
1.1–4.3 mcmol/L
12.8–21.8 mcmol/L
Drug Determination
Reference Value
Conventional units
SI units
Antiarrhythmics
Amiodarone
0.5–2.5 mcg/ml
1.5–4 mcmol/L
Bretylium
0.5–1.5 mcg/ml
Nd
Digitoxin
9–25 mcg/L
11.8–32.8 nmol/L
Digoxin
0.8–2 ng/ml
0.9–2.5 nmol/L
Disopyramide
2–8 mcg/ml
6–18 mcmol/L
Flecainide
0.2–1 mcg/ml
Nd
Lidocaine
1.5–6 mcg/ml
4.5–21.5 mcmol/L
Mexiletine
0.5–2 mcg/ml
Nd
Procainamide
4–8 mcg/ml
17–34 mcmol/ml
Propranolol
50–200 ng/ml
190–770 nmol/L
Quinidine
2–6 mcg/ml
4.6–9.2 mcmol/L
Tocainide
4–10 mcg/ml
Nd
Verapamil
0.08–0.3 mcg/ml
Nd
Anticonvulsants
Carbamazepine
4–12 mcg/ml
17–51 mcmol/L
Phenobarbital
10–40 mcg/ml
43–172 mcmol/L
Phenytoin
10–20 mcg/ml
40–80 mcmol/L
Primidone
4–12 mcg/ml
18–55 mcmol/L
Valproic Acid
40–100 mcg/ml
280–700 mcmol/L
Antidepressants
Amitriptyline
110–250 ng/ml
500–900 nmol/L
Amoxapine
200–500 ng/ml
Nd
Bupropion
25–100 ng/ml
Nd
Clomipramine
80–100 ng/ml
Nd
Desipramine
115–300 ng/ml
Nd
Doxepin
110–250 ng/ml
Nd
Imipramine
225–350 ng/ml
Nd
Maprotiline
200–300 ng/ml
Nd
Nortriptyline
50–150 ng/ml
Nd
Protriptyline
70–250 ng/ml
Nd
Trazodone
800–1600 ng/ml
Nd
Antipsychotics
Chlorpromazine
50–300 ng/ml
150–950 nmol/L
Fluphenazine
0.13–2.8 ng/ml
Nd
Haloperidol
5–20 ng/ml
Nd
Perphenazine
0.8–1.2 ng/ml
Nd
Thiothixene
2–57 ng/ml
Nd
Drug Determination
Reference Value
Conventional units
SI units
Miscellaneous
Amantadine
Amrinone
300 ng/ml
3.7 mcg/ml
nd
nd
Chloramphenicol
10–20 mcg/ml
31–62 mcmol/L
Cyclosporine
250–800 ng/ml
(whole blood, RIA)
50–300 ng/ml (plasma, RIA)
nd
nd
Ethanol
0 mg/dl
0 mmol/L
Hydralazine
100 ng/ml
nd
Lithium
0.6–1.2 mEq/L
0.6–1.2 mmol/L
Salicylate
100–300 mg/L
724–2172 mcmol/L
Sulfonamide
5–15 mg/dl
nd
Terbutaline
0.5–4.1 ng/ml
nd
Theophylline
10–20 mcg/ml
55–110 mcmol/L
Vancomycin
(trough)
(peak)
5–15 ng/ml
20–40 mcg/ml
nd
nd
* Nilai yang diberikan secara umum dapat digunakan untuk terapi tanpa terjadi efek toksik pada kebanyakan pasien, Namun pengecualian juga tidak jarang terjadi.
1 nd = data tidak tersedia.
2 Metabolit N-desmethyl beserta turunannya.
3 Nilai 24 jam.
4 Toksik: 50–100 mg/dl (10.9–21.7 mmol/L).
Diambil dari The Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, National Institutes of Health.
Classification of Blood Pressure *
Category
Reference value
Systolic (mm Hg)
Diastolic (mm Hg)
Optimal
< 120
and
< 80
Normal
< 130
and
< 85
High-normal
130–139
or
85–89
Hypertension
Stage 1
Stage 2
Stage 3
140–159
160–179
³ 180
or
or
or
90–99
100–109
³ 110
* Untuk dewasa berusia 18 atau lebih yang tidak dalam pengobatan anti hipertensi dan tidak dalam kondisi akut. Ketika tekanan sistole dan diastole masuk ke dalam kategori lain, maka kategori di atasnya harus dipilih untuk menentukan klasifikasi status tekanan darah penderita. Sebagai tambahan dalam menentukan stadium hipertensi, seorang praktisi medis harus menentukan ada atau tidaknya penyakit pada target organ serta faktor resiko lainnya.
1 Tekanan darah yang optimal terhadap resiko kardiovaskular adalah dibawah 120/88 m Hg. Namun demikian, nilai rendah yang tidak wajar harus dievaluasi untuk menemukan kelainan klinis yang signifikan.
2 Berdasarkan atas pembacaan sebanyak 2 kali atau lebih pada pemeriksaan awal.


BAB III
PENUTUP
3.1    KESIMPULAN
Spesimen merupakan sebagian dari jenis atau seagian dari kelompok benda yang sama untuk di jadikan contoh. Spesimen juga dikatakan sebagai benda sebenarnya. Jenis specimen bermacam macam, ada yang hidup sesuai kenyataan di alam. Ada juga yang sudah diawetkan atau yang biasa disebut herbarium.
Pengambilan spesimen merupakan salah satu dari serangkaian proses yang dilakukan sebelum melakukan pemeriksan laboratorium. Supaya spesimen memenuhi syarat untuk diperiksa, maka proses pengambilan spesimen harus dilakukan dengan mengikuti kaidah yang benar. Spesimen yang memenuhi syarat adalah : jenisnya sesuai dengan pemeriksaan yang akan dilakukan, volumenya mencukupi untuk tiap jenis pemeriksaan, kondisinya layak untuk diperiksa (segar/tidak kadaluwarsa, tidak berubah warna, steril, tidak menggumpal), antikoagulan yang digunakan sesuai, dan ditampung dalam wadah yang memenuhi syarat.
Sampel merupakan bagian dari populasi yang ingin diteliti; dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap populasi, namun bukan populasi itu sendiri.[1] Sampel dianggap sebagai perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala yang diamati.[2] Ukuran dan keragaman sampel menjadi penentu baik tidaknya sampel yang diambil. Terdapat dua cara pengambilan sampel, yaitu secara acak (random)/probabilita dan tidak acak (non-random)/non-probabilita.
3.2    SARAN
                   Untuk mencapai tujuan pengambilan sampel, maka dapat dilakukan secara acak dan objektif sedemikian rupa sehingga propabilitas setiap unit sampel diketahui, sedangkan pengambilan sampel tanpa acak dilakukan sedemikian rupa sehingga propabilitas setiap unit sampel tidak diketahui dan faktor subjektif memegang peran penting. Oleh karena itu, pengambilan sampel tanpa acak ini, walaupun dilakukan sedemikian rupa sehingga mempunyai tingkat kewakilan yang tinggi, tetapi tidak dapat dievaluasi secara objektif.


DAFTAR PUSTAKA

Budiarto, Eko.2001.Biostatistika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat.Jakarta:EGC
Hastono, Sutanto Priyo.2010.STATISTIKA KESEHATAN.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
http://mistercela21.wordpress.com/2009/10/04/teknik-sampling/
http://www.4skripsi.com/metodologi-penelitian/teknik-pengambilan-sampel.html#axzz28EVmJUY6
http://bidanshop.blogspot.com/2010/01/cara-pengambilan-sampel-penelitian.html
Prihatini. 2002. KULIAH MIKROBIOLOGI PATOLOGI KLINIK : penerbit Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unair RSUD DR Soetomo, surabaya
Gandasoebrata, R. Penuntun Laboratorium Rakyat. Dian Rakyat. Bandung. 1992. Hal: 7-112. Patelki kaltim. Kompetensi Profsional Flebotomi. [serial on internet] 6Juni 2010 [cited 21 Maret 2010]. Page available:http//patelkikaltim.blogspot.com/2010/06/kompetensi-profesional-flebotomi.html
Arief, Mansyur. Teknik Flebotomi dan Antikoagulan. [serial on internet][cited 20 Maret 2010]. Page available:http://www.scribd.com/doc/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar